Bintang Liverpool Yang Musti Unjuk gigi Musim Ini

Liverpool cuma sanggup finis di posisi ke-4 di Premier League di musim lalu. Walaupun demikian, mereka masih akan tetap mendapatkan tiket untuk berkompetisi di Liga Champions pada musim ini. Dengan tambahan persaingan, The Reds jelas saja dituntut menjalani rotasi untuk mencapai hasil yang maksimal. Hal ini membikin anggota yang sudah mendiami kursi cadangan akan mendapatkan peluang untuk unjuk gigi. Liverpool cuma memboyong secuil anggota di musim panas ini namun tim kendali Jurgen Klopp tak terlalu tampak ideal. Oleh sebab itu, Klopp musti dapat mengoptimalkan anggota yang tak terlalu berkontribusi saat musim yang lalu. Dibawah ini berita dari indobola.me tentang 5 punggawa Liverpool yang wajib membuktikan diri di musim ini, dan artikel bola lainnya bisa anda baca juga disini:

Daniel Sturridge

Daniel Sturridge masih tetap terdapat di Liverpool meskipun lumayan jarang berlaga di sana. Usai absen panjang lantaran serangkaian cedera, musim ini dapat dikatakan merupakan musim terakhirnya Sturridge di Anfield. Sturridge pernah menghasilkan gol ke mistar Bayern Munchen saat sesi pramusim namun tak lama sehabis itu lagi-lagi menderita cedera. Sturridge memiliki potensi yang besar namun karirnya sering di usik oleh cedera. Bila keadaannya selalu fit hingga akhir musim dijamin Sturridge dapat membalikan karirnya.

Dejan Lovren

Dejan Lovren merupakan salah satu defender yang sering melakukan kekeliruan di Premier League. Ia tidak dapat diandalkan hingga Joel Matip musti menyembunyikan kekeliruan sang anggota Usai bursa transfer musim panas diresmikan, Liverpool menjalankan pendekatan demi membeli Virgil Van Dijk. Tetapi, tawaran Liverpool seharga 60 jt poundsterling tidak terbukti manjur untuk memperoleh pesepakbola Belanda itu. Liverpool akan berlaga di Liga Champions dan Lovren wajib menaikan performanya supaya tidak cuma sekedar numpang lewat pada kompetisi Eropa.

Loris Karius

Liverpool membeli Loris Karius dengan tujuan dapat menggantikan Simon Mignolet yang selalu membuat kekeliruan. Tetapi, debut punggawa Jerman itu rupanya tidak jauh beda dengan Mignolet. Sehabis membuat serangkainan kekeliruan, Jurgen Klopp kemudian kehilangan kesabaran dengan sang pesepakbola. Karius dicoret dan Mignolet balik lagi sebagai kiper premier. Karius terbilang sangat muda dan memiliki masa depan yang panjang. Tetapi, ia musti bekerja lebih keras lagi demi dapat menjadi penjaga gawang utama pada Premier League.

Joe Gomez

Joe Gomez memerlukan peluang untuk membuktikan diri usai pulih dari cedera ACL yang membikinnya absen sepanjang 15 bulan. Barisan belakang Liverpool lumayan rapuh hingga mereka dituntut berlaga makin baik lagi. Cedera yang dialami Nathaniel Clyne membikin Trent Alexander-Arnold dan Joe Gomez berkompetisi demi memperoleh tempat di tempat bek kanan. Joe Gomez sempat sebagai pilihan Liverpool sebelum cedera menyumbat karirnya. Jurgen Klopp menolak untuk meminjamkan Joe Gomez mengingat ia masih tetap percaya terhadap sang pesepakbola. Joe mempunyai musim yang besar di hadapannya, dan dengan bakat yang dipunyainya, ia tidak diperkenankan membuang seluruh peluang yang ada.

Alberto Moreno

Pemain Liverpool yang lainnya yang sering memperoleh atensi khusus ialah Alberto Moreno. Pemain berdarah Spanyol itu pernah diasumsikan sebagai penerus John Arne Riise namun performanya malah mengecewakan. Moreno tidak berhasil memproteksi tempat bek kiri dan makin sering mendiami kursi cadangan. Kadang Jurgen Klopp hingga harus memainkan James Milner di posisi itu di musim kemarin. Moreno tampaknya mendapatkan peluang ke-2 di musim ini usai bermain spektakuler semenjak sesi pramusim. Tetapi, apabila tidaklah bisa menjaga konsistensi permainannya, bukanlah tidak mungkin ini merupakan musim terakhirnya Moreno di Anfield.

Ibrahimovic dan Bintang Top yang Kandas Menjuarai Liga Champions

Zlatan Ibrahimovic dijamin akan balik lagi berlaga untuk MU. MU membuatkan klausul terbaru dalam satu musim buat Ibrahimovic. Banyak gosip beredar terhadap eksistensi Zlatan Ibrahimovic. Tak cuma tentang uang atau gengsi berlaga di tim raksasa, tetapi satu yang diasumsikan sebagai alasannya Ibrakadabra ialah peluang-peluang memperoleh piala Liga Champions. Bukanlah rahasia lagi, Ibrahimovic begitu menggadang piala Liga Champions. Ibra telah koleksi 33 piala juara dari sejumlah liga di Eropa, tetapi Liga Champions merupakan mimpi yang belum kesampaian. Walupun belum tentu 100 % akurat, argumen itu mengemuka. Sejumlah pengamat memberi nilai wajar bila kemudian Ibrahimovic akan kian banyak berlaga ketika Manchester United ‘manggung’ di laga Liga Champions.

Ya, MU akan bermain di area Liga Champions

2017-2018. Para pendukung MU cukup banyak berharap, terlebih lagi menyaksikan komposisi punggawa terbaru. Pada 2 laga pertama Premier League 2017-2018, MU memperlihatkan hubungan bagus diantara pesepakbola baru dan lama. Para pendatang anyar semacam Romelu Lukaku, Victor Lindelof dan Nemanja Matic memperlihatkan fungsi besar terhadap tempat masing-masing. Kondisi itu kian diperkuat dengan kolektivitas yang makin tinggi dari para punggawa lama. Walhasil, Ibrahimovic akan maksimal di medan pertempuran untuk peluang terakhir mencapai gelar Liga Champions. Dibawah ini para legenda sepak bola yang tidak sempat menikmati titel juara Liga Champions selama karier:

Fabio Cannavaro

Ia merupakan satu di antara pesepakbola paling baik sepanjang masa Italia. Ia menjalani 138 laga untuk Gli Azzuri dan memenangi Ballon d’Or tahun 2006. Canna merupakan salah satu dari zaman keemasan Parma di eropa di akhir tahun 1990-an juga tim-tim raksasa semacam Inter Milan, Juventus dan Real Madrid. Sayang, ia tak sekalipun mengangkat piala juara Liga Champions.

Roberto Baggio

Nama Roberto Baggio melambung ketika bertukar seragam dari Fiorentina menuju Juventus. Maklum, ketika itu tahap-tahap transfer pernah mengundang, protes bersamaan dengan kerusuhan daripada para pendukung La Viola.
Selama karier profesional bersama dengan Juve, Roberto Baggio pernah mengangkat piala turnamen antarklub Eropa, yaitu Piala UEFA 1993. Apresiasi ini sebagai modal untuknya untuk memperoleh gelar Pesepakbola Terbaik Eropa 1994. Disayangkan, trofi Liga Champions, yang ketika itu masih dinamai Piala Champions, tak pernah datang.

Ruud van Nistelrooy

Sukses menorehkan 56 gol pada Liga Champions, Van Nistelrooy merupakan pesepakbola dengan gol paling banyak yang tidak sempat memenangi Liga Champions. Pesepakbola berdarah Belanda ini berhasil jadi top skorer didalam 3 edisi Liga Champions. Disayangkan, ketika berkostum MU dan Real Madrid, ia kandas membawa trofi Liga Champions di dalam lemari koleksi titelnya.

Hernan Crespo

Bomber berdarah Argentina ini hampir memperoleh titel juara Liga Champions 2005. Ia pernah menghantarkan AC Milan menang melawan Liverpool. Disayangkan, The Reds sukses menyeimbangkan skor, mendesak partai lanjut ke perpanjangan waktu dan adu penalti.
Dalam momen adu tos-tosan inilah AC Milan kandas. Walhasil, Hernan Crespo seolah belum berjodoh dari Liga Champions. Sebutan tidak beruntung pernah diabadikan buat Crespon. Hal itu berlatar kepergian Crespo dari Inter Milan, nyatanya di musim selanjutnya La Beneamata mampu mengangkat piala Liga Champions saat ditangani Jose Mourinho.

Pavel Nedved

Satu di antara legenda Juve, yang sekarang bercokol di sederetan direktur tim. Nedved hampir memperoleh kemenangan di 2003. Sayang, harapan ini urung usai Juve kalah atas AC Milan. Ketika itu, Nedved tidak berhasil bermain di leg puncak lantaran hukuman akumulasi kartu. Pertandingan itu sebagai peluang pertama dan terakhir Nedved sepanjang berkarier yang menjadi pemain.

Ronaldo Luiz Nazario da Lima

Ronaldo “Gigi Kelinci” Nazario da Lima sebagai sensasi di panggung sepak bola mancanegara. Ia dominan sebagai individu, yang menyokong Brasil memetik titel juara internasional. Sayang, ia tak sempat menikmati manisnya memompa piala juara Liga Champions. Ia kandas saat berkostum PSV, Inter Milan, Barca, Real ​​Madrid dan AC Milan. Pria yang di sebut-sebut sebagai pesepakbola cemerlang di dunia di tahun 1997 dan 2002 tidak sedikitpun bisa mendapat hadiah utama persaingan antarklub se-Eropa itu.

Lilian Thuram

Ia merupakan satu di antara kunci permainan-permainan Prancis saat mengangkat piala juara Piala Dunia 1998. Tak cuma itu, Thuram mampu dijadikan pesepakbola unggulan Juve saat beroperasi jadi bek kanan. Sayang, penampilan memikat ini tak sempat membawanya memperoleh piala Liga Champions.
Ia cuma mampu menikmati pertandingan final di 2003. Selama pertarungan, Lilian Thuram berlaga cantik. Tetapi melesetnya sepakan penalti dari David Trezeguet, Marcelo Zalayeta dan Paolo Montero menggagalkan impian pesepakbola Prancis itu. Thuram cuma dapat memperoleh titel piala UEFA di saat berseragam Parma di tahun 1999.

Michael Ballack

Michael Ballack kandas jadi jawara Liga Champions dari 2 peluang. Ia kandas saat berkostum Bayer Leverkusen di tahun 2002. 6 tahun kemudian, ia lagi-lagi menangis di leg puncak setelah tak dapat menghantarkan Chelsea sebagai juara.
Ketika mengantarkan Leverkusen ke partai final, Ballack dan kawan-kawan jadi runner-up usai tendangan voli Zinedine Zidane sebagai penentu keunggulan untuk Real Madrid. Sedangkan di tahun 2008, Ballack cuma dapat menyaksikan kegagalan penalti John Terry dan Nicolas Anelka bersamaan dengan mempersembahkan gelar untuk MU.

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic telah mengoleksi 33 piala selama karier bersama dengan klub. Sayang, 1 piala Liga Champions membikinnya tak terlalu sempurna. Keadaan itu pun yang ditengarai menjadikan Ibrakadabra balik lagi ke MU, meskipun itu bukanlah alasan yang patut dipertanggungjawabkan.
Sekarang ini Ibrahimovic telah menjalani 119 pertandingan di level Liga Champions tidak pernah memompa piala prestisius ini. Ibrahimovic salah ambil pilihan ketika keluar dari Inter Milan satu tahun menjelang mereka memperoleh titel juara antarklub paling prestisius se-Eropa itu.

Gianluigi Buffon

Ia berasal dari Parma dengan pencapaian transfer penjaga gawang di tahun 2001. Buffon terdapat di posisi ke-2 setelah Alessandro Del didalam daftar performa paling banyak Juve sepanjang zaman. Buffon musti gigit jari usai di 3 peluang yang dipunyainya, Juve mengakui kelebihan musuh. Juve kalah dari AC Milan (2003), Barca (2015) dan Real Madrid(2017). Mau berita bola lainnya? klik disini yang dipersembahkan oleh www.masteragen.me